Ulumul Quran

Al-Quran Produk Budaya Bangsa Arab?! Ringkasan Syubhat dan Bantahannya

Oleh: M. Hariz Farezi Fadza, Lc. Dipl. (Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Tafsir & Ilmu-ilmu Al-Quran, Universitas al-Azhar)

Ada syubhat kontemporer yang terlihat secara zahir memukau, akan tetapi mengandung problematika yang bisa mencederai keilahian al-Quran. Yaitu klaim yang mengatakan “Al-Quran itu produk budaya.” Apa dalilnya? Adanya pembagian makki dan madani.

Kata mereka, al-Quran itu bukan kalam Allah, tetapi kalam Muhammad yang terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya. Ketika di Makkah, ia menemukan masyarakat-masyarakatnya yang cenderung keras dan berwawasan rendah (menurut klaim mereka), sehingga corak ayat-ayat makkiyah itu keras semua. Berbeda dengan ketika di Madinah, di mana beliau berjumpa dan bergaul dengan orang-orang ahli kitab yang memiliki wawasan tinggi, dan lebih terpelajar dari masyarakat Makkah, sehingga ayat-ayat madaniah itu coraknya lembut dan lebih sistematis dari makkiyah.

Cukup mengerikan, tapi untuk membantah hal tersebut cukup dengan data sejarah dan data yang ada dalam al-Quran sendiri:

  1. Corak keras ataupun lembutnya suatu ayat sama sekali tidak dipengaruhi sebab teritori dan lingkungan. Akan tetapi kembali kepada konteks, situasi dan kondisi yang mengitari turunnya suatu ayat atau surah. Ketika di Makkah misalnya orang-orang kafir Quraisy-nya ngeyel, turun ayat-ayat yang mengecam keras mereka. Begitu juga di Madinah, ketika orang-orang ahli kitabnya ngeyel, turun juga ayat-ayat yang keras kepada mereka, begitu juga kepada kaum munafik. Intinya, keras atau tidaknya suatu ayat/surah kembali ke konteks keadaan, bukan hasil pengaruh lingkungan. Baca lebih lengkap surah-surah madaniah (Contohnya QS. An-Nisa’: 56, Al-Baqarah: 24, dsb.), pasti ada juga ayat-ayatnya yang keras di sana, tidak hanya yang makkiyah saja. Ditambah lagi ayat-ayat makiyah tidak ada sama sekali memerintahkan berperang (baca: qitâl).
  2. Dalil mereka bahwa orang-orang Quraisy Makkah itu berwawasan rendah dari orang-orang Madinah sangat tidak benar, dengan bukti sejarah bahwa bangsa Quraisy merupakan kaum terfasih dan tinggi bahasanya, serta pusat peradabannya Arab kala itu, dan bahkan kabilah-kabilah Arab dari berbagai penjuru sering kali datang ketika masa haji untuk menyaksikan pertunjukkan syair yang sangat luar biasa di pasar Ukaz kala itu. Dan bahkan khitâb al-Quran dengan bentuk îjâz (singkat) di kebanyakan surah-surah makkiyah justru menunjukkan kecerdasan orang-orang yang dituju oleh khitâb tersebut.
  3. Istilah “produk budaya” memiliki beberapa pengertian, di antaranya: segala hasil karya intelektual, artistik, atau praktik yang diciptakan oleh individu atau kelompok, mencerminkan keyakinan, nilai, dan gagasan mereka (baca di: Roboguru). Pengertian lainnya: media atau alat yang paling efektif untuk mempertahankan karakter bangsa (baca di: Kompasiana.com).

Berdasarkan pengertian ini, artinya al-Quran itu merupakan hasil budaya bangsa Arab (Makkah maupun Madinah) yang dituliskan oleh Muhammad SAW berdasarkan interaksinya dengan mereka.

Klaim ini terbantahkan dengan empat hal:

  • Pertama, jika memang al-Quran itu produk budaya bangsa Arab, harusnya isinya mendukung dan mempertahankan budaya penyembahan berhala para kafir Quraisy, begitu juga budaya mengubur anak perempuan hidup-hidup, minum khamr dan semacamnya. Namun nyatanya al-Quran malah mengecam yang demikian. Belum lagi ada kandungan isi al-Quran tentang kiamat, hal-hal gaib, surga neraka, yang di mana semua itu nyatanya diingkari para kafir Quraisy. Bagaimana mungkin al-Quran menjadi produk budaya mereka jika seperti itu?! Begitu juga tentang ahli kitab di Madinah yang harusnya al-Quran mengesahkan apa yang mereka yakini dari distorsi kitab-kitab suci mereka, tapi nyatanya al-Quran mengecam hal tersebut dan membeberkan fakta yang selama ini mereka tutupi, lantas bagaimana mungkin al-Quran menjadi produk budaya mereka jika seperti itu?!
  • Kedua, jika memang al-Quran itu produk budaya bangsa Arab, harusnya mereka bangga dengan adanya al-Quran ini yang merupakan hasil budaya mereka. Tapi nyatanya mereka malah mengecam hal tersebut dan justru gencar memerangi Nabi dan al-Quran. Bagaimana mungkin al-Quran menjadi produk budaya mereka jika seperti itu?!
  • Ketiga, jika memang al-Quran itu produk budaya bangsa Arab karena Nabi SAW terpengaruh oleh mereka, harusnya yang layak jadi nabi adalah orang-orang Arab tempat ia terpengaruh itu. Tapi nyatanya tidak ada data sejarah yang menyatakan ada nabi dari kalangan mereka (kecuali Muhammad SAW). Dan nyatanya juga Nabi SAW tidak pernah belajar dari kalangan mereka terkait agama.

Adapun klaim yang mengatakan Nabi belajar dari Pendeta Bahira maka itu tidak tepat, justru ia hanya memberi kabar kepada paman beliau (Abu Thalib) bahwa ia akan menjadi seorang nabi akhir zaman, sebatas itu saja, itu pun ketika Nabi masih kecil. Begitu juga klaim bahwa Nabi belajar kepada Waraqah bin Naufal, itu pun hanya bertemu sekali dan Waraqah hanya memberi tahu bahwa yang mendatangi Nabi ketika di Gua Hira’ itu adalah Nâmûs (Jibril AS) yang pernah mendatangi Nabi Musa AS, sebatas itu. Juga ia pernah menyatakan seandainya masih diberi kesempatan hidup, maka akan menolong Nabi SAW dalam berdakwah. Dan kedua orang itu meninggal terlebih dahulu, sedangkan al-Quran senantiasa turun ayat-ayatnya. Bagaimana mungkin orang yang menyatakan demikian menjadi guru bagi Nabi SAW dan mendiktekan al-Quran sebagai produk karyanya dan bangsa Arab?!

  • Keempat, jika memang al-Quran itu produk budaya bangsa Arab dan karya Nabi Muhammad SAW, harusnya mereka bisa mendatangkan semisal al-Quran atau bahkan satu surah semisalnya. Tapi nyatanya bangsa Quraisy tunduk dengan keagungan bahasa al-Quran, padahal mereka merupakan kaum paling fasih sepanjang sejarah.

Daftar Pustaka:

  • البيان في علوم القرآن: المقرر على طلاب الفرقة الأولى كلية أصول الدين جامعة الأزهر، العام الجامعي ٢٠٢٥/٢٠٢٦م، (ص ١٠١ & ٢٠٧-٢٦٦).
  • مذكّرة في علوم القرآن ، محمود أبو دقيقة، الناشر: الأزهر الشريف – القاهرة، ط. ١، ١٤٤٥هـ/٢٠٢٣م، (ص ٩٨-١٠٤).
  • لا يأتون بمثله: دراسة في إعجاز القرآن، أ.د/ محمد سالم أبو عاصي، الناشر: أطياف – الجيزة، ط. ١، نوفمبر ٢٠٢٣م، (ص ٩).
  • مناهل العرفان، ج ١، عبد العظيم الزرقاني، الناشر: دار السلام – القاهرة، ط.٥، ١٤٤٢هـ/٢٠٢١م، (ص ٦٥-٧٤ & ١٦٧-١٩٢).
  • https://roboguru.ruangguru.com/question/karya-intelektual-artistik-dan-praktik-individu-atau-kelompok-yang-memiliki-makna-tertentu_QU-QVXWFD4Z
  • https://www.kompasiana.com/ahmadwazier/551094bca33311a32dba9192/produk-budaya-dan-pendidikan-karakter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *