FOMO Membeli Buku dan Krisis Kompetensi Literasi Masisir: Sebuah Catatan Kritis

Pendahuluan: Ketika Buku Menjadi Simbol, Bukan Proses
Cairo International Book Fair (CIBF) selalu menjadi momen istimewa bagi mahasiswa Indonesia di Mesir. Ribuan judul kitab klasik dan kontemporer, harga yang relatif terjangkau, serta atmosfer keilmuan yang kuat menjadikan ajang ini seolah “lebaran buku” tahunan. Tidak mengherankan jika banyak mahasiswa berbondong-bondong membeli kitab, bahkan dalam jumlah yang tidak sedikit.
Setiap kali Cairo International Book Fair digelar, satu pemandangan hampir selalu terulang: masisir pulang dengan tas dan koper yang penuh dengan isi kitab. Aktivitas membeli buku menjadi ritual tahunan yang nyaris tak terpisahkan dari identitas sebagai penuntut ilmu di Mesir.
Namun, di balik euforia tersebut, muncul satu kegelisahan yang patut direnungkan bersama: apakah ledakan pembelian buku ini menandai peningkatan literasi, atau justru menutupi stagnasi kemampuan membaca? Apakah meningkatnya pembelian buku benar-benar berbanding lurus dengan meningkatnya kualitas literasi Masisir? Ataukah sebagian dari kita justru terjebak dalam fenomena fear of missing out (FOMO), di mana membeli buku menjadi simbol identitas intelektual, bukan bagian dari proses intelektual itu sendiri?
Tulisan ini tidak bermaksud meremehkan semangat memiliki buku — karena mencintai buku adalah pintu awal ilmu — melainkan mengajak untuk menggeser fokus dari sekadar menumpuk buku menuju membangun kesadaran dan kemampuan membaca yang konsisten. Buku hadir sebagai medium pembentukan intelektual bukan hanya sekedan simbol keikutsertaan dalam dunia akademik dan keilmuan.
FOMO dan Perpindahan Makna Buku
Fenomena fear of missing out (FOMO) biasanya dikaitkan dengan media sosial. Namun dalam konteks akademik, ia menjelma dalam bentuk yang lebih halus berupa kecemasan tertinggal secara simbolik. Buku tidak lagi dibeli karena kebutuhan epistemik, melainkan karena “kitab ini sedang ramai dibeli”, “teman-temanku semuanya punya”, atau “sayang kalau tidak dibeli sekarang”. Dalam situasi ini, makna buku justru bergeser dari alat kerja intelektual, menjadi penanda partisipasi dalam komunitas akademik. Sebenarnya masalah utama bukan pada FOMO itu sendiri, melainkan pada ketiadaan korelasi antara kepemilikan buku dan kompetensi membaca.
Literasi bukan sekadar kemampuan teknis mengeja teks Arab atau memahami makna global. Ia mencakup kemampuan membaca perlahan, ketahanan mental menghadapi teks sulit, kesanggupan mengikuti alur argumen panjang, dan kesabaran memahami perbedaan istilah dan konteks.
Ketika kompetensi ini tidak dibangun, betapapun bernilainya sebuah buku, ia hanya akan berhenti sebagai objek pasif. Rak boleh penuh, tetapi kapasitas kognitif tetap stagnan. Di sinilah letak krisisnya, kita merayakan akumulasi benda, bukan transformasi pembaca.
FOMO membeli buku pada akhirnya melahirkan ilusi progres. Ada rasa “sudah melangkah jauh” hanya dengan membawa pulang kitab-kitab besar. Padahal, dalam ilmu, progres tidak diukur dari jarak tempuh fisik dari pameran ke rumah, tetapi dari jarak kognitif yang berhasil ditempuh dari satu pemahaman ke pemahaman lain.
Ilusi ini berbahaya karena menenangkan psikologis tanpa mencerdaskan nalar berpikir dan memberi rasa cukup sebelum proses kerja intelektual yang sebenarnya dimulai. Buku yang belum dibaca sering kali sudah “dirayakan” secara psikologis.
Mengapa Fenomena Ini Subur?
Ada beberapa kondisi yang tanpa kita sadari membuat fenomena ini mudah tumbuh:
- Minimnya refleksi literasi
Diskursus seputar “bagaimana membaca” kalah jauh dibanding “apa yang harus dibeli”. Kita terlalu sibuk dengan cetakan rekomendasi daripada menyuburkan budaya membaca di manapun berada. - Budaya akademik yang menilai tampilan
Kitab yang terlihat sering lebih dihargai daripada pemahaman yang tak kasatmata. Kita lebih banyak mengapresiasi mereka yang memborong pulang banyak buku dari CIBF daripada meramaikan kajian-kajian dan seminar kelimuan. - Ketiadaan latihan membaca berkelanjutan
Banyak masisir tidak pernah benar-benar mendapatkan wadah diskusi yang memfasilitasi mereka untuk membaca teks panjang secara disiplin dan berkelanjutan.
Dalam kondisi seperti ini, membeli dan memborong buku di CIBF menjadi aktivitas paling mudah untuk tetap merasa “akademik”.
Buku sebagai Tanggung Jawab, Bukan Sekedar Kepemilikan!
Dalam tradisi keilmuan, kitab bukan sekadar milik, tetapi amanah. Setiap kitab menuntut waktu, perhatian, dan kerendahan hati. Membelinya tanpa kesiapan membaca memang bukan dosa, tetapi melangkaui tanggung jawab dan kebutuhan intelektual yang lebih mendasar.
Mungkin persoalan terbesarnya bukan FOMO itu sendiri, melainkan ketidakmauan mengakui bahwa literasi adalah kerja panjang, sunyi, dan tidak instagramable: sebuah proses yang menuntut kesabaran kognitif yang jarang seimbang dengan validasi instan, tetapi justru di sanalah fondasi intelektual benar-benar dibentuk.
Penutup: Menggeser Pertanyaan
Tulisan ini tidak menawarkan solusi praktis atau daftar bacaan. Ia hanya mengajak menggeser satu pertanyaan kunci, bukan lagi “kitab apa yang sudah aku beli?” melainkan “langkah apa yang sudah aku rencanakan untuk meningkatkan kapasitas agar layak membaca kitab itu?”
Selama pertanyaan kedua tidak menjadi pusat refleksi, FOMO membeli buku akan terus berlangsung dan krisis literasi akan tetap tersembunyi di balik rak-rak buku masisir yang terlihat penuh.
