Umum

Antara Kagum dan Bingung: Membaca Fenomena Mahasiswa Baru di Cairo International Book Fair

Pendahuluan: Pemandangan yang Selalu Berulang

Setiap tahun, Cairo International Book Fair (CIBF) menghadirkan pemandangan yang hampir serupa. Di tengah lautan pengunjung yang memenuhi lorong-lorong pameran, tampak sekelompok mahasiswa baru berjalan dari satu stan ke stan lain dengan wajah penuh rasa ingin tahu, namun juga kebingungan. Mereka melihat rak-rak kitab yang tinggi, judul-judul yang asing, serta antrean mahasiswa senior yang tampak begitu yakin memilih buku yang mereka cari.

Sebagian mahasiswa baru akhirnya hanya mengikuti arus: membeli kitab yang direkomendasikan teman, memilih buku karena terlihat populer, atau bahkan pulang tanpa benar-benar memahami apa yang sebenarnya mereka butuhkan.

Fenomena ini sering dipandang sebagai kelemahan literasi mahasiswa baru. Padahal, jika dilihat secara jujur, kondisi tersebut justru sangat wajar. Persiapan menghadapi event sebesar CIBF memang tidak mungkin terjadi secara instan. Ia merupakan akumulasi dari proses literasi yang panjang, bertahap, dan sering kali tidak terlihat.

CIBF Bukan Sekadar Pameran Buku, Tetapi Cermin Kematangan Literasi

Bagi sebagian mahasiswa, CIBF hanyalah tempat membeli kitab. Namun bagi mahasiswa yang telah melewati proses literasi yang matang, CIBF sebenarnya adalah ruang evaluasi intelektual.

Kemampuan seseorang menentukan judul buku yang ia cari, kualitas cetakan yang layak dipilih, edisi yang paling kredibel, serta perkembangan literatur terbaru dalam bidang tertentu, semuanya merupakan indikator kematangan literasi yang tidak dibangun dalam hitungan minggu.

Mahasiswa yang datang dengan daftar buku yang jelas biasanya telah melalui proses panjang: membaca, berdiskusi, mengikuti talaqqi, serta berinteraksi dengan berbagai rujukan ilmiah. Sebaliknya, kebingungan di tengah ribuan kitab sering kali mencerminkan minimnya peta keilmuan dalam diri pembaca, bukan sekedar kurangnya semangat belajar.

Literasi sebagai Proses Jangka Panjang

Sering kali mahasiswa baru menganggap CIBF sebagai titik awal perjalanan literasi. Padahal, dalam banyak kasus, CIBF justru merupakan hasil dari perjalanan literasi sebelumnya.

Untuk mampu memilih kitab secara sadar, seorang mahasiswa idealnya telah, mengenal disiplin ilmu yang ingin ia tekuni, memahami kitab rujukan utama dalam bidang tersebut, mengetahui reputasi penerbit dan kualitas tahqiq dan mengikuti perkembangan karya-karya baru.

Semua ini tidak lahir dari persiapan singkat menjelang pameran, tetapi dari proses belajar yang berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Karena itu, kebingungan mahasiswa baru di CIBF bukan kegagalan, melainkan tanda bahwa perjalanan literasi mereka baru saja dimulai.

Mengapa Tahun Pertama Menjadi Penentu?

Dalam pengalaman banyak mahasiswa, tahun pertama di Mesir sering kali membentuk pola hidup akademik yang bertahan hingga tahun-tahun berikutnya. Tahun pertama bukan sekadar fase adaptasi geografis, tetapi fase pembentukan orientasi intelektual.

Jika pada tahun pertama seseorang lebih fokus pada pekerjaan, maka sering kali orientasi mentalnya akan terus berputar pada aspek finansial. Bukan berarti bekerja adalah kesalahan, tetapi ketika ia menjadi prioritas utama sejak awal, ruang untuk membangun fondasi literasi sering kali menyempit.

Jika tahun pertama diisi dengan aktivitas yang lebih banyak bersifat rekreatif, maka pola tersebut kerap berlanjut karena mahasiswa belum memiliki peta akademik yang jelas untuk dikejar. Ketika teman-teman seangkatan mulai melangkah lebih jauh dalam keilmuan, kebingungan arah sering kali muncul karena fondasi awal tidak pernah dibangun.

Sebaliknya, mahasiswa yang sejak tahun pertama membiasakan diri dengan belajar, talaqqi, dan aktivitas literasi biasanya mengembangkan ikatan emosional dengan ilmu. Bahkan ketika menghadapi tantangan finansial atau godaan liburan, orientasi intelektual mereka cenderung tetap terjaga karena belajar telah menjadi bagian dari identitas diri.

Talaqqi dan Aktivitas Literasi sebagai Fondasi Navigasi Keilmuan

Dalam tradisi keilmuan Islam, talaqqi bukan hanya metode transmisi ilmu, tetapi juga sarana membangun peta intelektual. Melalui talaqqi, mahasiswa tidak hanya mengetahui isi kitab, tetapi juga memahami kitab mana yang menjadi rujukan utama, bagaimana hubungan antar literatur, serta bagaimana menempatkan sebuah karya dalam tradisi keilmuan yang lebih luas.

Aktivitas literasi seperti membaca, mencatat, berdiskusi, dan menulis, berfungsi sebagai latihan navigasi. Tanpa latihan ini, mahasiswa akan mudah tersesat di tengah melimpahnya literatur, termasuk ketika berada di pameran buku terbesar kedua di dunia ini.

Dengan kata lain, kemampuan memilih buku bukan sekadar kemampuan belanja, tetapi hasil dari pembentukan kesadaran intelektual.

CIBF Tahun Depan sebagai Target Literasi

Alih-alih melihat kebingungan di CIBF sebagai kegagalan, mahasiswa baru justru dapat menjadikannya sebagai titik refleksi. CIBF berikutnya bisa menjadi target perkembangan literasi pribadi.

Mari pasang target yang jelas agar datang ke CIBF tahun depan dengan daftar kitab yang telah disusun sejak jauh hari, dengan pemahaman mengenai kualitas cetakan, dengan wawasan tentang karya-karya terbaru dalam bidang studi yang diminati, serta kemampuan membedakan kebutuhan ilmu dari sekadar keinginan koleksi.

Perubahan seperti ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia lahir dari konsistensi belajar sepanjang tahun. dari kebiasaan membuka kitab meski tanpa tuntutan ujian, dari kesediaan mencatat hal-hal kecil yang awalnya terasa sepele, serta dari keberanian bertanya ketika menemui kesulitan memahami teks. Proses tersebut mungkin tampak sederhana, bahkan monoton, tetapi justru dari rutinitas inilah peta keilmuan seseorang perlahan terbentuk dan kematangan literasi mulai terlihat.

Penutup: Dari Kebingungan Menuju Kesadaran

Kebingungan mahasiswa baru di Cairo International Book Fair bukanlah aib atau kegagalan intelektual. Ia justru bagian dari proses bertumbuh dan pertanda bahwa seseorang sedang berdiri di gerbang ilmu. Namun gerbang hanya memiliki makna jika seseorang benar-benar memilih untuk masuk, bukan sekadar berlama-lama di ambangnya.

CIBF sesungguhnya bukan tempat pertama literasi dimulai. Ia hanyalah panggung yang menampilkan sejauh mana proses belajar seseorang telah berlangsung sebelumnya. Rak-rak kitab tidak pernah menentukan siapa yang berilmu; yang menentukan adalah kesediaan seseorang menjalani proses panjang yang sering kali tidak terlihat oleh siapa pun.

Pada akhirnya, nilai CIBF bagi seorang masisir tidak diukur dari banyaknya buku yang dibawa pulang, melainkan dari seberapa jauh pameran itu memantulkan kondisi batin intelektualnya sendiri. Sebab dalam perjalanan ilmu, yang membentuk seseorang bukan buku yang berhasil ia kumpulkan, tetapi kesungguhan yang membuatnya terus kembali kepada buku itu, hari demi hari, tahun demi tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *