Al-QuranUlumul Quran

Sejarah Ulumul Quran

Oleh: M. Hariz Farezi Fadza, Lc. Dipl. (Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Tafsir & Ilmu-ilmu Al-Quran, Universitas al-Azhar)

Awal mula munculnya Ulumul Quran dimulai sejak era Nabi SAW yang menafsirkan beberapa ayat Al-Quran kepada para sahabat. Mereka begitu semangat dalam belajar dan mengaji Al-Quran begitu juga dalam mengamalkan isinya.

Terus berlanjut di era Khulafa ar-Rasyidin pada masa Abu Bakar as-Shiddiq RA (w. 13 H) metode pembelajaran Al-Quran masih seperti di zaman Nabi SAW, akan tetapi Al-Quran mulai dibukukan dalam satu mushaf karena sebab banyaknya para penghafal Al-Quran dari sahabat yang meninggal dunia pada masa perang Yamamah.

Kemudian pada masa khalifah Utsman bin ‘Affan RA (w. 35 H) Al-Quran disalin kembali dengan standar tertentu yang menghimpun berbagai perbedaan cara baca karena sebab perpecahan kaum muslimin sebab perbedaan dialek dan bacaan pada waktu itu, dan dari sinilah muncul cikal bakal “Ilmu Rasm al-Quran” (bentuk penulisan di mushaf Al-Quran).

Lalu pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib RA (w 40 H), beliau memerintahkan Abu Aswad ad-Duali RA (w. 69 H) untuk membukukan kaidah-kaidah dasar nahwu, dan ini bisa dikatakan sebagai cikal bakal munculnya “Ilmu l’rab al-Quran”.

Pada abad ke-2 H, mulailah pembukuan hadis dengan beragam tema pembahasannya, termasuk tafsir Al-Quran yang diriwayatkan dari Nabi SAW, para sahabat, ataupun tabiin. Di antaranya yang terkenal: Yazid bin Harun as-Sulami (w. 117 H), Syu’bah bin al-Hajjaj (w. 160 H), Waki bin al-Jarrah (w. 197 H), Sufyan bin Uyainah (w. 198 H), dan Abdurrazaq bin Hamam (w. 211 H). Mereka semua merupakan para imam hadis, mereka menghimpun tafsir dalam kitab hadis dalam bentuk bab per bab. Namun, yang sampai kepada kita hanyalah manuskrip bab tafsir dari Abdurrazaq bin Hamam.

Selanjutnya pada abad ke-3 H, para ulama mulai mengarang beragam pembahasan seputar Al-Quran. Dalam bidang tafsir, yang pertama kali mengarang kitab tafsir utuh ialah Ibnu Jarir at-Thabari (w. 310 H), kemudian beberapa karangan dengan tema-tema seputar Al-Quran yang terpisah seperti: “Asbab an-Nuzul” karangan ‘Ali bin al-Madini (w. 234 H) gurunya Imam al-Bukhari, “an-Nasikh wa al-Mansukh” dan “Ilmu Qiraat” yang dikarang oleh Abu Ubaid al-Qasim bin Salam (w. 224 H), “Ta’wil Musykil al-Quran” karangan
Ibnu Qutaibah (w. 276 H).

Pada abad-abad setelahnya, mulai banyak muncul karangan-karangan dalam ilmu Al-Quran walaupun secara terpisah. Seperti: “Gharib al-Quran” karangan Abu Bakar as-Sijistani (w. 330 H), “I’jaz al-Quran” karya Abu Bakar al-Baqillani (w. 403 H). “Aqsam al-Quran” karya Ibnu al-Qayyim (w. 751 H).

Hingga datang masa pengumpulan pembahasan-pembahasan ilmu Al-Quran tersebut dalam satu karangan utuh oleh Ali bin Ibrahim bin Sa’id al-Hufi (w. 430 H) dalam kitab “al-Burhan fi Ulum al-Quran sebanyak 30 jilid, yang menghimpun beragam tema pembahasan, seperti: i’rab ayatnya, makna dan tafsirnya, waqafnya, qiraatnya, dan sebagainya. Al-Hufi dikenal sebagai orang pertama yang membukukan Ulumul Quran dalam satu karangan utuh. Disusul setelahnya oleh Ibnu al-Jauzi (w. 597 H) dalam kitabnya “Funun al-Afnan fi ‘Ajaib Ulum al-Quran”, kemudian Badruddin az-Zarkasyi (w. 794 H) dalam kitabnya “al-Burhan fi Ulum al-Quran” (beda dari yang sebelumnya), lalu Sirajuddin al-Bulqini (w. 824 H) melalui kitabnya “Mawaqi’ al-Ulum fi Mawaqi’ an-Nujum”, dan akhirnya disempurnakan semua karangan-karangan sebelumnya dan masuk ke tahap final oleh Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H) dalam kitab agungnya “al-Itqan fi Ulum al-Quran”.

Setelah masa as-Suyuthi (w. 911 H) beserta kitab agungnya dalam Ulumul Quran “al-Itqan fi Ulum al-Quran” -yang menjadi rujukan utama studi ilmu al-Quran hingga saat ini-, perkembangan studi ilmu al-Quran vakum sejak saat itu hingga tiba di awal abad 14 H kembali digaungkan, dijadikan mata pelajaran tersendiri di Universitas al-Azhar, dan dikarang berbagai macam kitab-kitab ilmu al-Quran. Di antaranya:

“At-Tibyan li Ba’dhi al-Mabahits al-Muta’alliqah bi al-Quran” karya Thahir al-Jazairi (w. 1338 H), “Mudzakkirah fi Ulum al-Quran” karya Mahmud Abu Daqiqah (w. 1359 H), “Manhaj al-Furqan fi Ulum al-Quran” karya Muhammad Ali Salamah (w. 1361 H), “an-Naba’ al-Azhim” karya Abdullah Diraz (w. 1377 H), “al-Bayan fi Mabahits min Ulum al-Quran” karya Abdul Wahab Guzlan (w. 1392 H), dan yang paling lengkap dan rinci ialah kitab “Manahil al-‘Irfan fi Ulum al-Quran” karya Muhammad Abdul Azhim az-Zurqani (w. 1367).

Semua karangan kontemporer tersebut disaring lagi dan disegarkan uslub bahasanya sesuai zaman ini oleh Prof. Dr. Musa Syahin Lasyin (Wakil Rektor Universitas Al-Azhar Urusan Pascasarjana tahun 1979) melalui kitabnya “al-Laali al-Hisan fi Ulum al-Quran” sebagai salah satu muqorror (baca: diktat) ilmu al-Quran di Al-Azhar dahulu.

Kemudian muncul banyak karangan seputar Ulumul Quran di era kontemporer ini. Di antaranya yang terkenal: “al-Qawa’id al-Asasiyyah fi Ulum al-Quran” dan “Zubdah al-Itqan” karya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki (w. 1425 H), “al-Tibyan fi ‘Ulum al-Quran” karya Muhammad Ali al-Shabuni (w. 2021 M), dan “Mabahits fi Ulum al-Quran” karya Manna’ al-Qaththan.


Daftar Pustaka:

  • مباحث في علوم القرآن مناع القطان، الناشر : مكتبة المعارف – الرياض ط. ٣، ١٤٢١هـ / ٢٠٠٠م، (ص ٥-١١).
  • فهم جذور البيان، عبد الوهاب غزلان، أ.د/ محمد سالم أبو عاصي، الناشر : مكتبة الإيمان – القاهرة، (ص ٤١-٦٢).
  • مذكرة في علوم القرآن ، محمود أبو دقيقة، الناشر : الأزهر الشريف – القاهرة، ط. ١، ١٤٤٥هـ / ۲۰۲۳م، (ص ۲۷-۲۹).
  • مناهل العرفان، ج ۱، عبد العظيم الزرقاني، الناشر : دار السلام – القاهرة ط. ٥ ، ١٤٤٢هـ / ٢٠٢١م، (ص ٢٥-٣٣).
  • موارد البيان في علوم القرآن، محمد عفيف الدین دمياطي، الناشر: مكتبة لسان عربي – مالنج، ط. ٦ ، ١٤٣٩ هـ / ٢٠١٨م، (ص ٢-٦).
  • Fadza, M. Hariz Farezi, Dunia Ilmu Islam, (Kairo: Malakah Book Publisher, cet. III, Juli 2025 M), hal. 111-112.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *